Bioskop JMR

Bioskop JMR

 JADWAL BIOSKOP JMR 2018
Lokasi : Ruang Bioskop JMR 2018

Kamis (15.30 - 18.00)
1 Adopsi Sarang, Lestarilah Kayu
2 Alas Milik Kain
3 Buka Sasi Lampa
4 Di Balik Batik
5 Gampang Dicari, Susah Didapat
6 Selamatkan Gunung Kendeng
7 Podium
8 Bisnis Gaharu, Bencana atau Anugerah
9 Persiki (Persatuan Siswa Kecil Indonesia)
10 Asa di Negeri 1001 Goa

Jumat (15.30 - 18.00)
1 Indramayu : Miang Meng Jakarta (Aku Ingin ke Jakarta)
2 Kuningan : Karatagan Ciremai
3 Sumbawa : Haruskah ke Negeri Lain?
4 Sleman : Bangun Pemuda! Pemudi Sudah
5 Wamena : Agnes, Pewaris Budaya Dunia?
6 Sumedang : Bintang di Pelupuk Mata (Tak Tampak)

Sabtu (14.00 - 16.00)
1 Karatagan Ciremai
2 Ahu Parmalim

Pemutaran film di hari Sabtu akan dilanjutkan dengan diskusi film untuk membahas dua film yang sudah diputar.
Narasumber :
- Cicilia Maharani (Sutradara Ahu Parmalim)
- Ady Mulyana (Sutradara Karatagan Ciremai)
- Dr. Subandri (Peneliti CRCS UGM)
Moderator : Titah AW


DESKRIPSI FILM

KAMIS, 8 MARET 2018 (15.30 - 18.00)
"SERI DEPOT VIDEO KAMPUNG HALAMAN: KITA DAN ALAM"

Di hari pertama, Kampung Halaman sebagai kolaborator JRM 2018 akan memutar video dari Depot Video, program database video berbasis komunitas. Tiap komunitas membuat video tentang mereka sendiri sebagai alat belajar dan menyuarakan pendapat kepada publik yang lebih luas. Untuk JMR 2018, yang akan diputar adalah kompilasi dari “Dengar! Vol. 3: Memahami Alam, Memahami Kehidupan” yang terdiri dari 10 film pendek.

1. Adopsi Sarang, Lestarilah Kayu
Sutradara : Wisnu Multimedia Production
Tahun produksi : 2006
Menceritakan kegiatan yang dilakukan kelompok Kurma Asih dalam upaya penyelamatan penyu, Pak Tirta selaku ketua kelompok bercerita awal mula beralih profesi dari penangkap penyu menjadi penyelamat penyu. Ia mengajak orang lain untuk ikut menyelamatkan penyu melalui program adopsi sarang telur penyu.

2. Alas Milik Kain
Sutradara : Masyarakat Muluy, PADI, Dedy Arnov
Tahun produksi : 2005
Melalui kearifan lokal dapat juga melestarikan lingkungan termasuk hutan. Bahkan melalui jalan ini sangat efektif. Apakah mungkin  cara orang rimba Muluy dalam menjaga hutan diterapkan di kawasan hutan di daerah lain?

3. Buka Sasi Lampa
Sutradara : Nen Mas’il
Tahun produksi : 2007
Kisah tentang ritual adat di Desa Haruku, Maluku Tengah. Buka Sasi Lompa adalah pesta panen ikan lompa yang berlangsung setiap tahun. Ritual ini merupakan cara masyarakat adat setempat untuk menjaga potensi dan sumber daya laut yang dimilikinya. Film yang berdurasi 30 menit ini menjelaskan bahwa masyarakat lokal memiliki kearifan lokal akan bagaimana menjaga alam dan memanfaatkan sumber daya alam tanpa merusak ekosistem yang ada. Video ini mengilhami banyak komunitas lokal maluku tergerak melestarikan dan mempertahankan hak-hak ulayat adat mereka.

4. Di Balik Batik
Sutradara : Komunitas Toelis (Fata Hanifa, Putri Astuti, Fajar Rosyidi, Maharani Jibriellia)
Tahun produksi : 2009
Batik, salah satu warisan budaya Jawa yang sudah mendapatkan pengakuan dari UNESCO ini ternyata menyimpan cerita pahit di balik pembuatannya. Limbah batik yang menyebabkan lingkungan di sungai tercemar. Apakah yang disampaikan korban pabrik batik ketika ‘angkat’ bicara?Bagaimana pemerintah kota menengahinya?

5. Gampang Dicari, Susah Didapat
Sutradara : RT 04 Bungku Transosial, WARSI
Tahun produksi : 2008
Setelah suku Anak Dalam kehilangan hutan tempat tinggal mereka, kini mereka mencukupi kebutuhan hidupnya dengan membuat arang atau mengarang.

6. Selamatkan Gunung Kendeng
Sutradara : Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK)
Tahun produksi : 2008
Jaringan Masyarakat peduli Pegunungan Kendeng, sebuah perlawanan sikap atas kesewenangan industri yang mengatasnamakan kesejahteraan untuk rakyat. Perlawanan ini muncul dari masyarakat Pati atas kepentingan pembangunan pabrik semen, sebuah perjuangan nurani menyelamatkan alam dari kepentingan serakah industri. Video ini mengangkat perjuangan masyarakat menyelamatkan Gunung Kendeng dari gilasan industri semen

7. Podium
Sutradara : Musinah, Lelani Production
Tahun produksi : 2008
MCK masih menjadi masalah di sebagian masyarakat di kab. Karawang. Podium dimaksud, bukanlah tempat khatib atau pejabat berpidato, melainkan jamban pinggir kali. Masyarakat yang berada di pinggiran kali, umumnya menggunakan sungai sebagai tempat segala macam aktivitas, mulai dari mencuci, mandi dan buang hajat. Video ini merupakan hasil praktek peserta pelatihan video komunitas yang dilakukan di Jakarta.

8. Bisnis Gaharu, Bencana atau Anugerah
Editor : Andre Rimbayana, Sekretariat Keadilan & Perdamaian Keuskupan Agung Merauke
Tahun produksi : 2007
Mengupas cerita implikasi sosial di balik bisnis gaharu oleh masyarakat asli Papua. Tak selamanya uang membahagiakan ketika tak dapat menggunakannya dengan bijak. lagi-lagi perempuan dan anak-anak yang menjadi korban atas keserakahan kaum adam.Bisnis gaharu: musibah atau anugerah?

9. Persiki (Persatuan Siswa Kecil Indonesia)
Sutradara : I Wayan Sucitra
Tahun produksi : 2008
Cerita kegiatan Persatuan Siswa Kecil Indonesia (persiki). Membersihkan lingkungan desa setiap hari minggu. Kegiatan membentuk kesadaran lingkungan sejak usia dini.

10. Asa di Negeri 1001 Goa
Sutradara : WALHI Yogyakarta
Tahun produksi : 2009
Suara warga desa Kluwih dan desa Pagotan, dua desa yang menjadi lokasi dua perusahaan pertambangan, PT Dragon Fly Mineral Industri dan PT Gemilang Limpah Internusa di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.


JUMAT, 9 MARET 2018  (15.30 - 18.00)
"SERI FILM KOLABORATIF KAMPUNG HALAMAN: KEMBANG 6 RUPA"

Kembang 6 Rupa adalah seri film dokumenter pendek tentang 6 remaja perempuan yang tengah menghadapi masa depan di kampung halamannya. Kembang 6 Rupa diproduksi oleh Yayasan Kampung Halaman, berkolaborasi dengan 6 (enam) sutradara dan 6 (enam) remaja perempuan di Indramayu, Sumedang, Kuningan, Sleman, Sumbawa dan Wamena.

1. Indramayu : Miang Meng Jakarta (Aku Ingin ke Jakarta)
Sutradara : Opan Rinaldi
Tahun produksi : -
Ika (16 tahun) dari Desa Amis, Indramayu sangat ingin bekerja ke Jakarta. Masa lalu yang buruk membuat Ika memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya saat di SMP. Usianya yang belum cukup, dan keinginan ibunya agar dia tetap tinggal di Indramayu membuatnya frustasi. Segala upaya dia lakukan agar segera pergi dari Amis. Akankah Ika terus bertahan di kampungnya?

2. Kuningan : Karatagan Ciremai
Sutradara : Ady Mulyana
Tahun produksi : -
Anih Kurniasih (15 tahun) dari Desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat yang meyakini agama leluhurnya: Sunda Wiwitan. Berdasarkan alasan negara hanya mengakui enam agama resmi, Anih dan keluarganya senantiasa mengalami diskriminasi. Sejak lahir, ia tercatat sebagai anak angkat dari kedua orangtua kandungnya. Pernikahan orangtuanya dianggap tidak sah. Akibatnya, Anih dan adik-­adiknya kesulitan untuk mendapatkan akte kelahiran dan surat administrasi kependudukan lainnya. Disadari atau tidak, yang dialami Anih adalah diskriminasi terstruktur. Sampai kapan hal ini terus berlangsung? Bisakah Anih memperoleh pendidikan setinggi mungkin sesuai dengan cita-­citanya?

3. Sumbawa : Haruskah ke Negeri Lain?
Sutradara : Anton Susilo
Tahun produksi : -
Maesarah (17 tahun) adalah satu dari remaja dari Pulau Bungin, Sumbawa yang ingin memperbaiki kehidupan keluarganya dengan bekerja di Malaysia. Untuk dapat dikirim ke Malaysia, SMK tempat Maesarah (Mae) bersekolah meminta calon pekerja seperti Mae untuk menyiapkan biaya sebesar Rp. 2 juta. Saat Mae mencari informasi dari tetangga yang sudah memberangkatkan anak mereka ke Malaysia, dia menemukan adanya indikasi adanya jaring laba-­laba seputar biaya keberangkatan yang melibatkan pihak sekolahnya.

4. Sleman : Bangun Pemuda! Pemudi Sudah
Sutradara : Michael A.C Winanditya
Tahun produksi : -
Nala Sahita Putri (17 tahun), adalah anggota perempuan yang sangat kritis di GAMA 55, sebuah sub Karang Taruna di Dusun Krapyak, Desa Wedomartani, DIY. Berdiri sejak 1984, GAMA 55 diharapkan menjadi salah satu ujung tombak masyarakat, khususnya dari pihak orang tua untuk menjadi wadah bagi remajanya untuk ikut membangun dusun. Itukah yang terjadi? Bagaimana kerjasama antara anggota perempuan dan anggota laki-­laki GAMA 55? Kenapa anggota perempuan dianggap tidak memiliki potensi? Benarkah?

5. Wamena : Agnes, Pewaris Budaya Dunia?
Sutradara : Arief Hartawan
Tahun produksi : -
Agnes Asso (17 tahun) adalah remaja perempuan dari Distrik Asolokobal (11 KM dari Wamena, Papua). Kehamilan dan kelahiran putrinya membuat sekolah Agnes terhenti di kelas 1 SMA. Karena sampai saat ini Agnes belum juga dinikahi oleh pasangannya, maka untuk menyambung kehidupannya sebagai orangtua tunggal, Agnes mengandalkan keterampilannya dalam menganyam dan menjual noken. Bisakah noken memenuhi kebutuhan sehari-­hari dan impian untuk melanjutkan sekolah?

6. Sumedang : Bintang di Pelupuk Mata (Tak Tampak)
Sutradara : Dwi Sujanti Nugraheni
Tahun produksi : 2014
Pipit Fitrianti (16 tahun) dari Desa Cibeureum Wetan, Sumedang adalah gadis ceria yang sudah kenyang diberi stigma sebagai “cabe-­cabean” oleh orang-­orang di kampungnya. Stigma itu yang membuat prestasi Pipit tidak diakui. Padahal Pipit adalah murid dan atlet berprestasi. Cita-­citanya tak muluk, ia hanya ingin menjadi guru olahraga atau guru matematika, tapi jalan yang penuh rintang sepertinya akan menghadang, bahkan pihak sekolahnya enggan mendukung cita-­cita Pipit. Siapa seharusnya yang mendukung Pipit?
 


SABTU, 10 MARET 2018 (14.00 - 16.00)
"SERI BEDA, SAMA, BERSAMA: KARATAGAN CIREMAI DAN AHU PARMALIM"

Pemutaran hari ketiga akan menampilkan 2 film terbaru produksi Kampung Halaman yang sama-sama menyoroti isu tolenrasi di bidang agama kepercayaan, yaitu Sunda Wiwitan dan Ugamo Malim. Dengan sudut pandang yang berbeda, dua film ini menunjukkan bagaimana dinamika kehidupan minoritas di Indonesia. Sesi ini akan disertai diskusi dengan harapan bahwa film ini bisa memantik obrolan soal isu toleransi dan dengan bijak merayakan perbedaan di tengah gentingnya kasus diskriminasi yang muncul disana-sini.

1. Karatagan Ciremai
Sutradara : Ady Mulyana
Tahun produksi : -
Anih Kurniasih (15 tahun) dari Desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat yang meyakini agama leluhurnya: Sunda Wiwitan. Berdasarkan alasan negara hanya mengakui enam agama resmi, Anih dan keluarganya senantiasa mengalami diskriminasi. Sejak lahir, ia tercatat sebagai anak angkat dari kedua orangtua kandungnya. Pernikahan orangtuanya dianggap tidak sah. Akibatnya, Anih dan adik-adiknya kesulitan untuk mendapatkan akte kelahiran dan surat administrasi kependudukan lainnya. Disadari atau tidak, yang dialami Anih adalah diskriminasi terstruktur. Sampai kapan hal ini terus berlangsung? Bisakah Anih memperoleh pendidikan setinggi mungkin sesuai dengan cita-citanya?

2. Ahu Parmalim
Sutradara : Cicilia Maharani
Tahun produksi : 2017
Carles Butar Butar (17 tahun) adalah remaja Parmalim yang menjalani dua peran besar dalam hidupnya, sebagai anak yang membantu ekonomi keluarga dengan bekerja di sawah serta remaja yang berusaha meraih cita-citanya sebagai Polisi. Cita-cita tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh keluarga karena kemampuan ekonomi mereka. Meski demikian, Carles memiliki caranya sendiri dalam menyikapi hal tersebut. Ia terus berusaha dan berpegang pada ajaran agama yang ia yakini. Bagaimana Carles menjalani kedua peran tersebut? Apa ajaran Parmalim yang ia yakini? Apa usaha Carles untuk mencapai cita-citanya?