Corak Baru dalam Gelaran Jagongan Media Rakyat 2018

Corak Baru dalam Gelaran Jagongan Media Rakyat 2018

https://jmr.combine.or.id/uploads/jmrduaribudelapanbelas/1521101735-kruha-antonius-candra-wibisono-2.jpg

Corak yang berbeda terlihat pada gelaran Jagongan Media Rakyat (JMR) yang kelima ini. Acara dua tahunan yang diselenggarakan oleh Combine Resource Institution di Jogja National Musem (JNM) pada 8-10 Maret tersebut mengusung konsep kampung sebagai corak baru dalam mengusung isu-isu mutakhir yang terjadi di masyarakat. Setiap kampung memiliki bahasan isu yang berbeda-beda, yakni: teknologi, media, pangan, dan keadilan.  

Konsep kampung ini merupakan terobosan baru yang belum pernah dilakukan pada JMR Sebelumnya. Selama ini, JMR tidak membagi isu dalam kampung-kampung dan lebih banyak mengusung isu-isu mengenai teknologi dan media. Sebagai gebrakan baru, JMR 2018 kali ini mengangkat isu-isu lain, yakni pangan dan keadilan.

Hal tersebut tercermin dengan diselenggarakannya diskusi-diskusi mengenai pangan dan beberapa komunitas yang hadir untuk menjual pengananya di pasar kuliner. Salah satu isu yang diangkat adalah mengenai pasar lokal dan bahan pangan organik yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. 

Konsep Empat Kampung
Imung Yuniardi selaku Direktur CRI menjelaskan bahwa isu tersebut dihadirkan untuk melihat kembali fungsi pangan yang tidak banyak dibicarakan pada konteks yang lebih luas. Pangan lebih sering dikaitkan sebagai sarana untuk mencukupi kebutuhan dasar dan sebagai tanda kesejahteraan. “Selain itu, pangan juga sesungguhnya menjadi alat perlawanan,” papar Imung pada hari terakhir penyelenggaraan JMR, Sabtu (10/3). “Pada tahap inilah pangan menjadi alat dan media,” sambungnya.

Salah satu contoh yang menggambarkan bahwa pangan menjadi alat perlawanan adalah kehadiran ibu-ibu korban penggusuran New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kuliner JMR 2018. Tidak hanya menjual penganan yang mereka olah dari hasil bumi yang mereka tanam sendiri, mereka juga menjadikan momen tersebut untuk melawan penindasan yang dialami.

https://jmr.combine.or.id/uploads/jmrduaribudelapanbelas/1521101828-h1-kampung-pangan-hanif-1.jpg

Warsiyah menjelaskan bahwa acara ini menjadi salah satu upaya untuk mengenalkan olah boga yang mereka racik sendiri. “Kita kan digusur ya Mbak, tapi kami masih bisa mengolah hasil pertanian ini. Semua ini berasal dari tanaman yang kami panen,” ujarnya sambil menunjuk beberapa pisang yang diolah jadi keripik pada Sabtu (10/03). Selain itu, Warsiyah dan ibu-ibu yang lain juga menjual beberapa olahan makanan seperti bakso keong, sate keong, dan keripik undur-undur. “Apa yang dilakukan oleh ibu-ibu di Kulonprogo merupakan bukti perlawanan yang dilakukan dengan media pangan,” ungkap Warsiyah.

Selain pangan, media perlawanan juga dilakukan oleh kawan-kawan Save Street Child (SSC) Jogja. Galuh Drajad Swastilaksmi, salah satu pegiat SSC menjelaskan beberapa upaya yang dilakukan oleh kawan-kawan di jalan dengan membuat beberapa karya seperti totebag, gantungan kunci, kaos dan lain sebagainya. Barang-barang tersebut juga dipamerkan dan dijual di pasar komunitas JMR 2018.“Melalui acara ini, kami diberi kesempatan untuk mengenalkan SSC pada teman-teman yang hadir,” ujar Galuh. Kegiatan yang dilakukan oleh SSC sendiri merupakan salah satu aksi untuk mengupayakan keadilan.

https://jmr.combine.or.id/uploads/jmrduaribudelapanbelas/1521101832-h1-workshop-wayang-plastik-gita-11.jpg

Tidak hanya isu pangan dan keadilan, JMR 2018 juga tetap konsisten mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan media dan teknologi. Di Kampung Media, Zani Noviansyah, Koordinator JMR 2018 menjelaskan bahwa hoaks menjadi salah satu persoalan yang pelik di era digital. “Oleh karena itu, warga harus menjadi aktor baik dalam media komunitas, media warga, media alternatif dan lain sebagainya untuk melawan hoaks,” jelasnya.

Sementara itu, di Kampung Tekno, salah satu isu yang tengah disoroti adalah pelanggaran privasi dan keamanan data pribadi. Dalam hal ini, Zani menekankan bahwa kolaborasi serta sikap proaktif dari para pelaku dibutuhankan untuk meminimalisasi persoalan tersebut. Pasalnya, isu-isu mengenai privasi dan kemanan data masih awam di mata masyarakat. Oleh karena itu, perlu ditumbukan kesadaran masyarakat terhadap perlindungan data pribadi yang mereka miliki.

Keberagaman JMR
Selain isu-isu yang dibahas secara mendalam di kampung-kampung JMR 2018, pengunjung juga dapat menyaksikan Pameran Pengetahuan, Bioskop JMR, Buku Rakyat, Pasar Komunitas, Kuliner JMR, hingga Panggung Rakyat. Buku Rakyat merupakan corak baru lainnya yang diusung oleh JMR 2018. Sebelumnya, acara yang diinisiasi untuk membangun gagasan warga tersebut belum pernah menghadirkan pameran buku. Kali ini, JMR 2018 menggaet Kampung Buku Jogja untuk memberikan alternatif bacaan berupa buku-buku penerbit indie dan buku lawasan. 

Meski tidak mengangkat isu-isu mengenai seni secara spesifik, JMR 2018 juga menghadirkan Panggung Rakyat sebagai salah satu sarana untuk pertunjukkan seni masyarakat. Perwujudan keberagaman terpancar dari para seniman dan musisi yang hadir dari berbagai kalangan. Mulai dari musisi kontemporer seperti Claire Jul, Shoppinglist dan Soemba Nusa hingga pertunjukkan tradisional Wayang Tingklung. 

https://jmr.combine.or.id/uploads/jmrduaribudelapanbelas/1521101831-h1-panggung-rakyat-antonius-candra-wibisono-4.jpg

Perwujudan keberagaman, menurut Imung, adalah salah satu yang ingin ditunjukkan dalam gelaran JMR 2018 selain berbaurnya gagasan dari berbagai komunitas. “Dalam JMR ini, semua wujud keberagaman berjalan harmonis tanpa harus memaksakan gagasan orang lain,” tuturnya. Oleh karena itu, selain menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkumpul, berbagi, dan bergerak bersama, JMR 2018 juga menjadi cerminan bahwa seluruh elemen yang berbeda-beda dapat berjalan secara harmonis demi mencapai tujuan yang sama untuk kebermanfaatan masyarakat. “Dalam suatu diskusi saja, kita bisa melihat keberagaman dari para peserta diskusi yang mengikuti,” jelasnya.

JMR 2018 resmi ditutup pada Sabtu (10/03). Meski begitu, acara ini telah memberikan kesan dan harapan pada para pengunjung. Salah satunya adalah Risma Yunita Wijayanti yang mengungkapkan antusiasmenya terhadap JMR 2018. Ia mengaku selalu menanti acara dua tahunan ini karena dapat menyaksikan dinamika komunitas yang berbeda-beda. Melalui keberagaman komunitas yang dihadirkan, Risma mendapatkan banyak pengetahuan dan perspektif baru dalam melihat suatu persooalan. “Di sini (JMR 2018) saya mendapatkan banyak sekali pengetahuan baru, entah dari diskusi, pameran maupun berbagai komunitas yang dihadirkan,” paparnya. Selain itu, Risma juga mengaku tertarik untuk membawa komunitasnya ke pagelaran JMR. “Mungkin bisa diinfokan secara terbuka apabila ada komunitas yang tertarik bergabung di JMR, mulai dari proses registrasi dan seleksi. Sebab, banyak komunitas yang ingin berminat bergabung tetapi tidak tahu caranya,” pungkas Risma.


Penulis: Lamia Putri Damayanti
Editor: Apriliana Susanti
Fotografer: Hanif, Gita, Antonius Candra Wibisono

Komentar pada halaman ini:

ARTIKEL TERKAIT