Keberdayaan Warga Bantaran Sungai Mengelola Risiko Bencana dan Pembangunan

Keberdayaan Warga Bantaran Sungai Mengelola Risiko Bencana dan Pembangunan

Diskusi: Keberdayaan Warga Bantaran Sungai Mengelola Risiko Bencana dan Pembangunan

Hari, tanggal: Sabtu, 10 Maret 2018

Pukul: 12.30 - 15.00

Lokasi: Kampung Keadilan JMR 2018

Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) adalah salah satu bentuk program dalam manajemen risiko bencana yang mengkombinasikan pendekatan top-down dan pendekatan bottom-up. Program yang diinisiasi oleh Palang Merah Indonesia (sebagai lembaga nasional) ini berupaya menstimulasikan partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan risiko bencana di wilayahnya. Saat ini, program SIBAT terfokus pada pengelolaan risiko bencana banjir. Sejak tahun 2014-2015, PMI menetapkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo, Ciliwung, dan Citarum sebagai percontohan pengembangan SIBAT dalam manajemen risiko banjir. SIBAT Sewu menjadi bagian dari proses ini. SIBAT Sewu merupakan komunitas tanggap bencana yang berasal dari Kelurahan Sewu, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta.

Inisiatif keberdayaan warga bantaran sungai juga tumbuh di Surabaya. Sejak 2003, warga strenkali membuat wadah organisasi rakyat yang disebut Paguyuban Warga Strenkali Surabaya ( PWSS ) dengan kegiatan berupa advokasi, pengorganisasian, serta melakukan kajian teknis tentang sungai, lingkungan, tata ruang, regulasi, sosial, ekonomi dan budaya. Kampung Strenkali Surabaya muncul dari urbanisasi yang terjadi sejak tahun 1945. Dalam perkembangan kota, kampung strenkali Surabaya mulai padat penghuni. Kampung strenkali sering menjadi sasaran penggusuran oleh pemerintah dengan alasan mengurangi permukiman kumuh. Warga setempat mampu bertahan dengan menyiapkan konsep penataan kampung pinggir sungai JOGOKALI pada tahun 2005. Legalitas kampung ini kini terlindungi oleh Peraturan Daerah tentang Sempadan Sungai Kali Surabaya dan Wonokromo sebagai kawasan permukiman terbatas.

Advokasi mempertahankan ruang hidup dari ancaman bencana dan laju pembangunan menjadi tantangan harian warga bantaran sungai. Peningkatan kapasitas warga menjadi penting sebagai bekal menjalankan peran dalam proses advokasi secara kolaboratif dengan para pihak. Pertanyaan mendasar adalah bagaimana keberlanjutan inisiasi forum-forum ini di masyarakatnya bisa dipupuk agar konsisten.

Penyelenggara: SIBAT Sewu, URDC Laboratory UNS, dan Paguyuban Warga Strenkali Surabaya (PWSS)

Narasumber:
1. Ester Tian (SIBAT Sewu, Surakarta)
2. Budi Utomo (SIBAT Sewu, Surakarta)
3. Gatot Subroto (PWSS)

Moderator: Kusumaningdyah N.H (URDC Laboratory UNS)

 

Komentar pada halaman ini:

ARTIKEL TERKAIT