Kenali Daerah Sendiri dengan Berjalan Kaki

Kenali Daerah Sendiri dengan Berjalan Kaki

Kini banyak masyarakat yang kurang memahami keadaan daerahnya sendiri. Sebabnya, masyarakat kurang jeli melihat kondisi daerahnya. Mereka beraktivitas tiap hari, juga berlibur di daerah-daerah wisata, namun tak sedikit warga yang kurang memahami keadaan lingkungan daerahnya. Berdasarkan keprihatinan itu, Gaharu Jabal bersama timnya membentuk komunitas A Day to Walk.

“Kami membuat komunitas ini dengan agenda jalan kaki ke kampung dan pasar. Tujuannya agar kita tidak asing dengan daerahnya sendiri,” tuturnya dalam diskusi bertajuk "Berjalan Kaki: Media Perantara antara Masyarakat dan Pelaku Seni" di Kampung Media, Jogja National Museum pada Sabtu, (10/3).

Sepanjang perjalanan bersama komunitasnya, Gaharu mendokumentasikan daerah-daerah yang mengalami perubahan. Ia mengabadikan momen yang kemudian tersimpan menjadi arsip. Dokumentasi itu kemudian dilanjutkan dengan menggelar pameran di pasar dan kampung.

“Gerakan acara kami lebih ke arah perlawanan, dalam arti positif. Tujuannya, kami hanya ingin mengembalikan daerah ke wujud aslinya,” tutur Gaharu.

Senada dengan Gaharu, Jatmiko Wicaksono dari Banjoemas History Heritage Community juga memiliki alasan serupa yang melatarbelakangi pendirian komunitasnya. Ia menjelaskan, komunitasnya sekarang telah memiliki rumah arsip dan perpustakaan. 

Jatmiko mulai mengenang upaya-upaya yang dilakukan oleh komunitasnya untuk berjalan kaki keliling daerah Purbalingga, Banyumas, dan Purwakarta selama tiga hari. Saat itu, mereka pernah dicurigai oleh penduduk setempat sebagai petugas PT. Kereta Api Indonesia yang hendak melakukan survei dan menggusur. 

“Kami dicurigai sehingga hanya melewati daerah-daerah yang sepi dan aman dari pantauan masyarakat,” ujar Jatmiko.

Bukan hanya itu, kecurigaan masyarakat juga masih berlanjut. Banjoemas History Heritage Community ini pernah dikejar oleh anjing yang sengaja dilepas oleh pemiliknya. 

“Walaupun begitu, di Banyumas dan Purbalingga kami sempat berkenalan dengan para pemulung kelas kakap dan pembongkar bangunan. Dari sana kami mulai melakukan sosialisasi dan advokasi atas berbagai permasalahan,” tutupnya.

Reporter: Anis Nur Nadhiroh
Editor: Yosepha Debrina Ratih P

Komentar pada halaman ini:

ARTIKEL TERKAIT