Mari Membangun Trotoar Ramah Pejalan Kaki

Mari Membangun Trotoar Ramah Pejalan Kaki

https://jmr.combine.or.id/uploads/jmrduaribudelapanbelas/1520835632-2018-03-10-koalisi-pejalan-kaki-1.jpg

Manusia merupakan makhluk pejalan kaki. Sayangnya, masyarakat masih enggan berjalan kaki karena menguras banyak energi.  Selain itu, faktor lain ialah tidak tersedianya fasilitas pejalan kaki. Misalkan saja trotoar. Di Indonesia, trotoar masih disalahgunakan untuk berkendara, berjualan bahkan parkir kendaraan. Penyalahgunaan trotoar tersebut membuat banyak orang mengurungkan niatnya untuk berjalan kaki. 

Penyalahgunaan trotoar hanyalah sekelumit permasalahan yang merembet dan akhirnya berimbas bagi pejalan kaki. Kondisi trotoar yang tidak layak jalan juga menimbulkan ketidaknyamanan pejalan kaki. Selain itu, trotoar yang sempit mengancam keselamatan pejalan kaki. 

“Sudah trotoar sempit, masih juga direbut oleh pengendara motor yang naik ke trotoar,” ungkap Alfred Sitorus, pendiri Koalisi Pejalan Kaki dalam diskusi “Inisiatif Warga Mendorong Daerah Ramah Pejalan Kaki” di Kampung Media, Jogja National Museum pada Sabtu (10/3).

Pejalan kaki sebagai subjek yang turut andil dalam emisi pengurangan gas karbon di bumi tidak mendapatkan hak-hak berjalan kaki. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Koalisi Pejalan Kaki, terdapat 18 pejalan kaki yang meninggal akibat penyalahgunaan dan kerusakan trotoar. 

Padahal, hal itu telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 Pasal 106 ayat 2 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Undang-undang tersebut menyebutkan pengguna kendaraan bermotor harus mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda. 

Namun realitasnya, acapkali dijumpai kendaraan serta pedagang di trotoar. Belum lagi fasilitas pejalan kaki bagi difabel. Trotoar yang dipasang penanda jalur kuning bagi difabel masih bermasalah. “Masih banyak jalur kuning difabel yang rusak, sehingga menyusahkan pejalan difabel,” ungkap Alfred.

Weni Marini selaku Koordinator Komunitas Perempuan Peduli Pelayanan Publik (KP4) Yogyakarta mengutarakan, trotoar difabel di Yogyakarta mengalami banyak kerusakan. “Masih ada jalur kuning yang mengarah ke tiang, jalur ini bisa mencelakakan tunanetra,” ungkap Weni. Padahal jalur kuning di trotoar merupakan petunjuk bagi pejalan tunanetra. 

Permasalahan-permasalahan tersebut yang mendorong Koalisi Pejalan Kaki mengajak masyarakat untuk mengkritisi fasilitas trotoar. “Kami perlu teman-teman untuk melaporkan kejanggalan apa yang ditemui ketika berjalan kaki,” tutur Alfred. 

https://jmr.combine.or.id/uploads/jmrduaribudelapanbelas/1520835633-2018-03-10-koalisi-pejalan-kaki-2.jpg

Untuk menjadi pejalan kaki yang aman dan nyaman perlu kerjasama berbagai pihak. Pemerintah, pengendara motor, pedagang, dan masyarakat perlu berkolaborasi agar trotoar menjadi tempat berjalan yang aman.

“Kami mengajak, khususnya teman-teman perempuan untuk bergabung dalam komunitas KP4 guna mengurusi layanan publik,” tutur Weni pada akhir diskusi.

Reporter: Bertha S. Rahajeng 
Editor: Yosepha Debrina Ratih P
Fotografer: Wie Gieung Lintang Herwibowo

Komentar pada halaman ini:

ARTIKEL TERKAIT