Prakarsa Warga Berdaya Hadir dari Kebersamaan

Prakarsa Warga Berdaya Hadir dari Kebersamaan

https://jmr.combine.or.id/uploads/jmrduaribudelapanbelas/1521097359-h3-penutupan-panggung-rakyat-refypandawa-3.jpg

Sore tadi, tampaknya alam cukup bersahabat. Desir angin dan pancaran matahari sore mengiringi sebuah pertunjukan lokaldi Panggung Rakyat dalam penutupan Jagongan Media Rakyat (JMR) kali ini. Dentuman suara kendang dan alat musik tradisional lainnya, mengiringi penembang menyanyikan lagu sluku-sluku bathok. Di depannya, pakaian khas Jawa, Batik Lurik dan jaran kepang menampilkan sebuah pemandangan yang tak asing lagi, jathilan. Ya, kelompok sanggar Jathilan Bocah menampilkan tarian khas suku Jawa tersebut dengan sebuah isu di baliknya.

Kapitalisme dan manusia-manusia serakah. Itulah yang dilontarkan berulang-ulang oleh penembang sembari menyanyikan lagu sluku-sluku bathok. Penggambaran manusia berpesta dan binatang yang kehilangan lahan kehidupannya dikemas apik dalam pertunjukan jathilan. Tampaknya, pertunjukan ini adalah pemanasan untuk para penonton sebelum masuk pada bagian intinya.

Hadir Zani Noviansyah, sebagai salah satu penanggung jawab acara pada JMR 2018 ini. Ia menutup perhelatan tersebut dengan menyampaikan rekomendasi JMR dan pemberian kenang-kenangan pada pegiat media komunitas Speaker Kampung selaku perwakilan mitra JMR 2018. 

https://jmr.combine.or.id/uploads/jmrduaribudelapanbelas/1521097403-h3-penutupan-panggung-rakyat-refypandawa-6.jpg

Kampung Tekno menyoroti pada tren pelanggaran privasi dengan menekankan kolaborasi serta sikap proaktif dari para pelakunya guna meminimalisasihal tersebut. Selain isu yang berkaitan dengan teknologi, Zani juga menyampaikan rekomendasi mengenai Kampung Keadilan, “Prakarsa warga berdaya hadir dari kebersamaan. Kekuatan jaringan adalah kekuatan terbesar untuk mengelola isu,” paparnya, Sabtu (10/3). Isu yang dimaksud dalam Kampung Keadilan adalah mengenai air, aksesibilitas, kebebasan berekspresi, keamanan dan keselamatan.

Sedangkan mengenai Kampung Media, ia menuturkan bahwa warga harus jadi aktor baik dalam media komunitas, media warga, media alternatif dan lain sebagainya untuk melawan hoaks. Tak ketinggalan mengenai Kampung Pangan, berdasarkan diskusi selama tiga hari di JMR, ini ia mengungkapkan bahwa potensi pangan dan minimnya pengetahuan tentang pengelolaan serta pembudidayaan adalah masalah krusial yang dihadapi saat ini. “Semua pihak harus berperan aktif dalam pemuliaan pangan lokal,” pungkasnya, Sabtu (10/3).

JMR 2018 resmi ditutup, namun Panggung Rakyat tetap berlanjut. Penampilan apik dari Soemba Nusa membuat sore itu semakin hangat dengan lagu-lagunya yang mengusung isu kemanusiaan seperti kasus penggusuran lahan warga di Kulon Progo. Kemudian lirik-lirik yang berisi ajakan untuk menolak lupa atas kematian tokoh-tokoh yang dikriminalisasi, dinyanyikannya dengan petikan gitar akustik. Sampai matahari mulai terbenam, Panggung Rakyat dilanjutkan dengan penampilan dari Tetangga Pak Hengki dan Wayang Tingklung di Jogja National Museum (JNM).

Penulis: Angela Shinta Dara Puspita
Editor: Lamia Putri Damayanti
Fotografer: Refy Pandawa

Komentar pada halaman ini:

ARTIKEL TERKAIT