Punahnya Ikan Endemik di Sungai Kita

Punahnya Ikan Endemik di Sungai Kita

https://jmr.combine.or.id/uploads/jmrduaribudelapanbelas/1521095497-h2-peran-masyarakat-dalam-pengelolaan-air-dan-sungai-anton-r-1.jpg

Air adalah sumber kehidupan, terutama bagi biota air. Kelestarian biota air, khususnya ikan endemik sangat tergantung pada kondisi air di sungai. Air sungai yang tercemar dapat mengancam kelestarian ikan-ikan endemik. Demikian halnya dengan maraknya pembangunan bendungan yang tidak ramah untuk ikan-ikan tersebut. Ancaman kepunahan pun membayangi.

Berdasarkan hasil riset Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) di Sungai Brantas, ada dua faktor yang menjadi penyebab utama kepunahan ikan di sungai. Pertama karena adanya racun yang mengganggu kesuburan ikan. Racun tersebut mengakibatkan fenomena perubahan jenis kelamin ikan (interseks atau sering disebut ikan bencong-red) . 

Faktor kedua, karena maraknya pembangunan infrastruktur yang mengganggu ikan untuk bertelur. Prigi Arisandi, pegiat ECOTON, mengatakan pembangunan bendungan di Indonesia belum menggunakan konsep jalur fish way. Padahal, jalur tersebut penting untuk ikan melakukan migrasi ke hilir sungai dan bertelur, kemudian kembali lagi ke hilir.

Arisandi menambahkan, pencemaran juga sangat berpengaruh untuk kelestarian ikan. “Beberapa jenis ikan sangat kuat terhadap pencemaran tetapi ada juga yang tidak. “Tahun 1970-an, di Sungai Brantas masih ada sekitar 80 jenis ikan. Setelah dibangun banyak bendungan, tinggal 30 sampai 40 jenis saja,” paparnya dalam diskusi bertajuk “Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Air dan Sungai” di Kampung Keadilan Jagongan Media Rakyat (JMR) 2018, pada Jumat (9/3).

Penyebab lain kepunahan spesies ikan endemik sulitnya pembiakan ikan endemik di kolam (kolam buatan-red) dan kondisi khusus yang diperlukan beberapa ikan untuk bertelur. Riska Darmawanti dari IndoWater CoP menjelaskan, beberapa ikan endemik berkembang biak dengan cara menempelkan telur-telur mereka di bebatuan kali atau tanaman sungai. “Ketika pinggiran sungai itu ditalut atau disemen, dia (ikan endemik) akan susah untuk bertelur,” jelasnya.

Punahnya beberapa spesies ikan endemik adalah contoh konkret dari dampak kurangnya kepekaan untuk menjaga kelestarian sungai. Namun, tentu saja menekan laju kepunahan tesrebut tidak semudah membalik telapak tangan.  Perlu kesadaran dan kepekaan berbagai pihak untuk mau menjaga kelestarian sungai dan biota yang hidup di dalamnya.  

Gerakan untuk menjaga kelestarian sungai perlu terus digalakkan. Salah satu komunitas yang gencar mengkampanyekan kelestarian lingkungan sungai adalah Asosiasi Komunitas Sungai Yogyakarta (AKSY). 

Endang Rohjiani, pegiat  AKSY menuturkan tentang kampanye budaya yang dilakukannya bersama masyarakat untuk menjaga kelestarian sungai.  “Hal yang kami ingin sampaikan adalah sungai itu sebagai ruang ekspresi, misal adanya festival di Sungai Winong (di Yogyakarta-red).  Nah, minimal di lingkungan sekitar dalam kegiatan itu, masyarakatnya bisa terlibat,” tuturnya.

Mari mengunjungi sejenak sungai-sungai yang ada di kotamu, masihkah menemukan ikan-ikan endemik berkerumun di sekitar akar pepohonan pinggir sungai?

Penulis: Angela Shinta Dara Puspita
Editor: Lamia Putri Damayanti, Apriliana Susanti
Fotografer: Antonius Candra Wibisono

Komentar pada halaman ini:

ARTIKEL TERKAIT